[FANFICT] Point of View – Chapter 2

Point of View

Like an off-target arrow, my heart cannot reaches you
I look at you, even if I look at you everyday, you only look at other place

Image

POINT OF VIEW

Author : Gugigi

Cast : Kim Myungsoo, Choi Sooyoung

Genre : Sad, School life

[Chapter 2 - Off-target Arrow ]

그 사람 사랑하고 있죠 잘 지냈으면 해요 안녕 ….

Choi Sooyoung’s POV

Kukira, saat dia bertanya tipe pemuda yang kusukai, mungkin saja ternyata perasaanku selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Bahkan dengan bodohnya aku sempat memikirkan adegan di sebuah drama romantis, dimana dua sahabat yang ternyata saling menyukai dan kemudian berpacaran.

Hah.

Bodoh.

Bukannya ia mengucapkan “Sebenarnya, selama ini aku juga menyukaimu,”, dia justru menceritakan tentang tipe perempuan idamannya. Bercerita tentang hal-hal, yang jujur saja, kukira tak akan pernah keluar dari mulut seorang Kim Myungsoo.

Kemarin, adiknya memperkenalkan pacarnya, Naeun, salah satu anggota cheerleader sekolah. Sebagai kapten cheers, tentu saja aku hafal betul anggota-anggotaku, salah satunya Naeun. Dia itu… sempurna? Yah, bisa dibilang begitu, sih. Diberkati dengan wajah cantik, tubuh langsing dan imut-imut, tak lupa dengan otak encer, sukses membuat predikat primadona sekolah melekat padanya.

Hei hei, aku tidak iri atau apa. Justru aku cukup menyukai pribadi hangatnya yang lugu dan polos. Setidaknya, sebelum aku mendengar ucapan Myungsoo tadi pagi. Kini, mendengar nama Naeun saja menimbulkan perasaan tidak enak.

“…benar-benar tipeku”

Kata-kata itu terus terngiang di benakku, menimbulkan sakit kepala berkepanjangan disertai mata panas seakan ingin menumpahkan cairan bening. Naeun memang tipe semua orang. Wajar bila Myungsoo menyukainya.

Kalau Choi Sooyoung? Yah, aku mungkin memiliki daya tarik, tapi jelas bukan aku tipenya. Sudah tak terhitung berapa kali ia memanggilku tiang listrik, kurus, dan wanita jadi-jadian. Jelas sekali kosakata tersebut tak akan pernah ada dalam kamus tipe-wanita-idaman manapun.

Ya, aku memang menyukai Kim Myungsoo. Teman masa kecilku, tetanggaku, teman sekelasku, patner lab-ku, dan… sahabatku. Kupikir, dengan status sahabat itu, aku bisa memastikan Myungsoo tidak dekat dengan gadis mana pun.

Pemikiran yang konyol, dan egois.

Status sahabat jelas tak berhak untuk menginterversi kehidupan cinta sahabatnya. Aku ini siapa, sih? Seharusnya, aku, sebagai seorang sahabat yang baik, justru membantu dengan memberikan tips-tips cinta dan lain-lain, bukan malah cemburu tidak jelas, seperti yang sekarang ini aku lakukan.

Kerja bagus, Choi Sooyoung. Gelar sahabat terpayah di dunia sudah dipastikan jatuh ke tangan ku. Oh, dan juga gelar cinta-tak-terbalas-yang bodoh.

“Oi, apa yang kau lakukan disini?”

Suara itu.

Suaranya.

Myungsoo.

“Jangan menekuk wajahmu seperti itu. Kalau kau melakukannya terus menerus, bisa-bisa keriputmu bertambah.”

Ha! Lihat! Benar, kan? Dia sudah jelas-jelas tak menyukaiku. Sudah begitu, bukannya menghibur, dia justru-

“Siapa dia? Biar kuhajar pemuda yang berani menolakmu.”

Oh Tuhan.

Astaga.

Orang yang membuatku patah hati, sekarang sedang berusaha menghiburku dengan caranya sendiri, kekerasaan fisik. Aku tak ragu lagi kalau dia bisa mengalahkan siapapun nama pemuda yang kusebutkan, pengalaman telah membuktikan. Namun, untuk satu nama yang ini, aku tak yakin dia bisa mengalahkannya.

Myungsoo, kau orangnya, tahu?

Orang yang harus kau hajar itu adalah dirimu sendiri, Kim Myungsoo…

Entah sejak kapan, tiba-tiba saja weker-ku berbunyi. Hari minggu mendadak sudah hadir saja di depan mata.

Semalam, setelah diantar pulang oleh Myungsoo (“Aku tidak mau kau menangis di tengah jalan lalu menyalahkanku!”), aku menangis di kamarku. Aku sendiri tidak tahu kenapa cairan bening itu menerobos pertahananku tanpa aba-aba, tanpa peringatan sama sekali. Kemudian setelahnya, aku tak ingat lagi.

Handphone-ku berbunyi di bawah bantal. Argh, siapa sih, yang berani meneleponku di minggu pagi? Apa mereka tidak bisa membiarkan aku berlarut dulu dalam perasaan-entah-apa-namanya? Menyebalkan. Bahkan semesta pun tak mendukungku untuk hal yang satu ini.

Kuhembuskan nafas lega tatkala ringtone pertama berhenti. Namun, sebelum sempat menarik nafas kembali, panggilan kedua kembali terdengar, memutar lagu Kissing You SNSD ke seluruh penjuru kamar.

Baiklah, kita lihat siapa yang berani menggangu minggu pagi Choi Sooyoung.

Dengan malas aku merogoh bantal, dan menemukan layar sentuh Samsung S3 ku menampilkan nama Kim Myungsoo tertera disana.

Apakah dia mengkhawatirkanku? Menanyakan kabarku? Atau… Ah, jangan berharap terlalu banyak. Rasanya sudah terlalu banyak ia memimpikan hal-hal yang mustahil.

“Halo.” Ya ampun, suaraku parau sekali, seperti nenek-nenek. Sudah pasti Myungsoo akan mengambil kesempatan ini untuk mengejekku habis-habisan.

“Dasar nenek lampir.”

Tuh, kan. Kira-kira, makian apa yang cocok untuknya, ya? Minggu pagi ternyata memberikan banyak inspirasi untuk sederet panggilan jelek, mulai dari-

“… apa kau sakit?”

Eh?

Tenang, Choi Sooyoung, tenangkan dirimu. Dia hanya bertanya kepadamu, karena rasa cemas seorang sahabat, tidak lebih. Berdeham untuk menjernihkan suara (yang ternyata tidak berhasil), aku menjawab, “Aku hanya sedikit pilek. Ada apa?

“Rasanya aku gugup sekali.”

“Kenapa?” gerutuku seraya bangkit dari tempat tidur. “Dasar aneh. Kalau kau mengganggu tidurku hanya untuk memberitahu perasaanmu di minggu pagi, lebih baik cepat putuskan sambungan. Minggu pagi memberiku banyak inspirasi kata-kata kasar, kau tahu?”

“Malam ini aku akan menyatakan perasaanku.”

“A-apa?”

“Aku ingin memintanya jadi pacarku.”

Ah. Rasanya seperti ada yang menonjok ulu hati-ku, atau jantungku, atau mungkin seluruh tubuhku. Tanpa sepengetahuanku, Myungsoo sedang dekat (dan akan menyatakan perasaan!) dengan seorang gadis? Bagaimana bisa? Bukan kah aku sahabatnya? Kenapa dia tidak pernah menceritakan gadis itu kepadaku?

“Siapa dia?”

“Aku yakin kau bisa menebaknya,” sahut Myungsoo dengan nada datar, namun aku jelas menangkap rasa senang yang tak biasa disana. “Soo, bisakah kau menemaniku? Aku ingin kau orang pertama yang mengetahui hubungan kami berdua.”

“Ak-aku? Yah… baiklah. Toh aku tak ada acara apa-apa hari ini. Dimana?”

Tuhan, kenapa rasanya sesak? Pedih? Dan kenapa pula mulutku dengan bodohnya menyetujui sesuatu yang pasti akan lebih menyakitkan lagi?

“Taman Namsan, jam 8. Kita bertemu di tempat biasa, ya,” kali ini, Myungsoo tak bisa menyembunyikan antusiasme-nya, padahal jarang sekali ia menunjukkan ketertarikan kepada apapun selain fotografi. “Doakan aku berhasil, oke?”

Jam 8. Aku punya waktu seharian untuk menguatkan hati, memastikan bahwa diriku akan baik-baik saja di taman Namsan. Bagaimanapun, sebelum perasaan itu datang, aku adalah sahabat terbaik Kim Myungsoo, kan? Dengan siapapun ia berpacaran, aku tetap sahabatnya.

Aku harus ikut berbahagia kalau dia juga bahagia, bukankah itu yang namanya sahabat?

“Ya, semoga berhasil, Kim Myungsoo.”

19.00.

Aku harus berangkat sekarang, bila tidak ingin datang terlambat. Tempat seperti biasa, ya? Kalau begitu pastilah di kafe tempat kami biasa menghabiskan waktu berdua. Berdua… setelah ini tidak akan ada lagi, mungkin malah akan menjadi bertiga, atau aku akan tersingkir.

Gadis itu, kekasih Myungsoo-lah, yang mungkin akan menempati kursi-ku kelak. Menikmati indahnya pemandangan yang terpantul di kaca kafe sembari berbagi cerita, rahasia, tanpa ada aku di dalamnya.

Aku merasakan mataku mulai berair. Lagi. Tidak, aku tidak boleh menangis. Aku harus menunjukkan wajah ceria kepada Myungsoo, terlebih ketika nantinya aku akan memberikan hadiah (sepasang gantungan ponsel) selamat atas hubungan keduanya. Aku sendiri sebenarnya membeli ini untuk kami berdua. Namun setelah kejadian kemarin, kurasa akan lebih pantas bila kekasih Myungsoo yang mengenakannya.

Pantaskah?

Aku membeli sepasang gantungan kunci berbentuk lego berwarna hitam, warna favorit kami. Kami. Bukan Myungsoo dan kekasihnya. Bukan.

Kami.

Lantas pertanyaan itu kembali mendesakku. Pantaskah?

21.00.

Samsung S3-ku berdering. Tanpa repot-repot melihat nama yang tertera disana, aku mengangkatnya. Aku tahu persis, hanya dia seorang yang akan meneleponku.

“Ha-halo… Myungsoo. Maaf, ak-aku tidak bisa datang… aku-“

Aku tidak bisa tersenyum bahagia melihat kalian berdua?

Aku tidak sanggup mengucapkan selamat kepada kekasih barumu?

Aku tidak mampu kesana tanpa menangis tersedu-sedu, seperti yang kini kulakukan di kamar?

Terdengar tarikan nafas Myungsoo, hendak berbicara. Mengatakan entah apa yang tidak mau kudengar. Mengucapkan kalimat yang kuyakin pasti membuatku semakin tercabik.

“Ma-maf,” potongku sembari memantapkan suara yang masih bergetar akan tangis. Sia-sia. “A-aku pa-patah hati la-lagi, a-aku tak ta-tahu ke-kenapa, ta-tapi a-aku tak bi-bisa berhenti me-menyu-menyukainya…”

“Soo-“

“Se-selamat atas p-pac-pacar ba-barumu. Kau diter-terima, kan? Ak-aku turut berba-bahagia.”

Klik.

TBC

7 thoughts on “[FANFICT] Point of View – Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s